Perhatian: tulisan ini bisa memusingkan buat yang gak terbiasa baca artikel panjang-panjang hehehe … tapi enjoy aja lagi 
==============
Gara-gara tulisan sebelumnya tentang Histrionik. Aku akhirnya goggling di internet. Cuma sekedar pengen tahu aja, sebenarnya histrionik ini salah satu bentuk kepribadian atau apa. Dan berikut adalah hasilnya:
Definisi
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM IV-R), Histrionik dianggap sebagai sebuah gangguan kepribadian (Histrionic Personality Disorder = HPD), yang didefinisikan sebagai sebuah pola emosi yang berlebihan dan kebiasaan mencari perhatian, termasuk kebutuhan akan persetujuan/pembenaran dan biasanya dimulai pada awal masa dewasa. Gangguan ini biasanya mulai terdiagnosa ketika sikap-sikap ini menjadi bersifat menetap dan sangat menyusahkan. (lagi…)
Juni 10, 2008
Pagi ini dapat sharing-email dari dokter di field. Isinya cukup menarik juga:
Tentang salah satu bentuk kepribadian, yang disebut HISTRIONIK. Menurut dokter, orang dengan kepribadian seperti ini biasanya selalu berupaya menarik perhatian lingkungan sebanyak-banyaknya demi kepuasan dan kenyamanan diri sendiri dengan berbagai cara. Salah satu cara yang efektif, adalah dengan mengeluhkan gangguan kesehatan. (lagi…)
Juni 10, 2008
Well, kata masochist sendiri diambil dari nama seorang penulis sekaligus jurnalis Austria bernama Leopold Ritter von Sacher-Masoch (buat yang pengen tahu lebih jauh soal dia, bisa klik disini). Secara bahasa, oleh beberapa kamus, Masochist didefinisikan sebagai seseorang yang memperoleh kepuasan seksual bila disiksa baik secara emosional maupun fisik oleh orang lain atau dirinya sendiri. Namun dalam hal lain, ini bisa juga ditujukan kepada orang yang suka menyiksa dirinya sendiri. (lagi…)
Mei 18, 2008
Pernikahan yang bahagia memang menyehatkan. Namun, pernikahan yang tidak bahagia dampaknya lebih buruk daripada melajang. Studi yang dilakukan Julianne Holt-Lunstad, seorang asisten dosen psikologi di Brigham Young University, mengungkapkan hal itu.
Holt-Lunstad meneliti 204 orang yang telah menikah dan 99 orang lajang. Suatu alat perekam tekanan darah dipasang ke subjek penelitian. Alat itu mencatat tekanan darah mereka secara acak selama 24 jam. Mereka yang sudah menikah juga diharuskan mengisi kuesioner tentang pernikahan mereka. Hasilnya, mereka yang menunjukkan tingkat kepuasan pernikahan yang tinggi memiliki tekanan darah rata-rata dalam sehari, atau selama siang hari lebih rendah.
Sebaliknya, mereka yang mempunyai tingkat kepuasan pernikahan yang rendah memiliki tekanan darah rata-rata lebih tinggi daripada mereka yang melajang. Bahkan pada siang hari, tekanan darah rata-rata mereka lima poin lebih tinggi. Fakta itu berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyebutkan mereka yang menikah cenderung lebih sehat daripada yang masih melajang.[sumber: CBN.net]
Well, kalau baca berita ini sih intinya bukan soal status menikah atau nggak nya ya. Tapi lebih ke keadaan obyek penelitiannya aja. Kalau sang obyek puas dengan status yang disandangnya, ya pasti dia sehat-sehat aja.
So, buat semuanya …. yang sudah menikah atau yang masih lajang, yang berstatus in-relationship atau yang anggota ijo lumut (ikatan jomblo lucu dan imut), yang baru aja dapat pasangan atau yang baru ditinggalin …. C’mon let’s be happy, ’cause we all deserve that. Do I make you happy today? halah!
April 11, 2008

Judul: The Kite Runner
Penulis: Khaled Hosseini
Penerbit (Indonesia): Qanita
Tebal halaman: 616++
Review:
Keren! Itu pujian pertama yang aku berikan untuk isi novel ini -bahkan waktu aku baru mulai membacanya-. Dan kata itu aku ulangi lagi dan lagi, hampir di beberapa bagian selanjutnya hingga akhir cerita. Pokoknya gak rugi deh beli dan baca buku ini. Karena memang KEREN!
(lagi…)
Maret 11, 2008
“Kenapa? kamu cemburu yaaa?”, tanyamu singkat.
“Nggak sih. Aku gak cemburu“, aku menjawab pelan dengan tetap mencoba menjaga nada wise.
“Hahahahaha, udah deh ngaku aja! Kamu cemburu khan?“, sambil tertawa ringan kamu langsung nebak-nembak perasaanku.
-aku merutuk dalam hati “d**n!“-
Akhirnya aku bilang juga, “Iya! Aku cemburu!“
“Hahahahahahahahahaha!“, dan kamu tertawa dengan lebih ringan dan lepas.
“Huh! Puas?!“, cuma itu yang bisa aku katakan dalam hati.
== == ==
Membahas soal cemburu sama kamu adalah salah satu hal yang paling melelahkan.
Kamu gak mau aku cemburu dengan apapun yang berkaitan dengan kamu. Karena kamu bilang, kamu sama sekali gak pernah cemburu dengan apapun yang berkaitan denganku. Karena menurut kamu CEMBURU itu GAK PENTING!
Well, bukan masalah penting atau gak penting. Sadar gak sih kamu, kalau dengan melarangku untuk cemburu -walaupun itu cuma beberapa detik-, kamu sudah berusaha membuat aku gak menjadi manusia lagi.
Aku rasa hampir semua orang setuju, kalau cemburu itu manusiawi -kecuali kamu dan mungkin beberapa gelintir orang lain-.
Karena aku masih merasa sebagai manusia biasa, sah-sah aja dunk kalau aku bisa cemburu. Lha wong aku punya perasaan!
Lagipula aku khan gak pernah melampiaskan cemburuku dengan membabi buta. Cukup dengan bertanya, konfirmasi, protes kecil dan selebihnya diam. Ya khan? -apakah menurutmu itu masih kurang sopan?-
Aku tahu, kali ini memang kamu gak bermaksud membuat aku cemburu. Karena keadaannya memang begitu. Dan kamu punya alasan yang cukup kuat untuk melawanku. Cumaaaaa …… Akh memang keadaan ini menyulitkanku untuk memberikan alasan apapun. Tapi bagaimana dengan yang lain-lain, yang lalu-lalu, yang kemarin-kemarin.
Well dear, aku hanya ingin kamu tahu.
Kalau aku ini cuma manusia biasa, karenanya selain menyayangimu, aku juga bisa cemburu. Selain memperhatikanmu, aku juga bisa diam -malas- seribu bahasa. Aku tahu, kamu selalu mengganggap aku super sabar, dan selalu bisa mengendalikan diri, tapi bukan berarti aku malaikat yang selalu dilindungi dari perasaan-perasaan negatif.
Aku cuma mau kamu menerimaku sebagai manusia. Yang juga bisa cemburu. Would you?
Februari 17, 2008
Dua minggu yang lalu, aku chatting dengan salah seorang teman jaman di SMAKBo dulu, yang biasa aku panggil Mamih (ini nama bekennya sejak jaman kita masih ABG dulu), dan kebetulan sekarang ini dia sudah berstatus “mamih beranak satu”.
Dalam kesempatan chatting siang itu, dia bercerita kalau dia sedang galau karena anaknya menderita suatu penyakit yang tergolong aneh, karena penyebab pastinya yang belum diketahui. (lagi…)
Februari 15, 2008
~Everything that has a beginning, has an end~
Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun.
Tadi siang -Minggu, 27 January 2008- mantan Presiden Republik Indonesia ke 2, Soeharto, dinyatakan telah meninggal dunia pada pukul 13:10 wib. Beliau meninggal pada usia hampir 87 tahun di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta akibat gangguan fungsi multi organ, setelah sebelumnya terlebih dahulu dirawat selama 24 hari . (lagi…)
Januari 27, 2008