[Histrionik Part 2] Ternyata sebuah gangguan kepribadian!

Juni 10, 2008

Perhatian: tulisan ini bisa memusingkan buat yang gak terbiasa baca artikel panjang-panjang hehehe … tapi enjoy aja lagi

==============

Gara-gara tulisan sebelumnya tentang Histrionik. Aku akhirnya goggling di internet. Cuma sekedar pengen tahu aja, sebenarnya histrionik ini salah satu bentuk kepribadian atau apa. Dan berikut adalah hasilnya:

Definisi

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM IV-R), Histrionik dianggap sebagai sebuah gangguan kepribadian (Histrionic Personality Disorder = HPD), yang didefinisikan sebagai sebuah pola emosi yang berlebihan dan kebiasaan mencari perhatian, termasuk kebutuhan akan persetujuan/pembenaran dan biasanya dimulai pada awal masa dewasa. Gangguan ini biasanya mulai terdiagnosa ketika sikap-sikap ini menjadi bersifat menetap dan sangat menyusahkan.

Gejala, ciri dan sifat-sifat:

Penderita HPD biasanya menunjukkan setidaknya lima atau lebih dari gejala-gejala berikut:

  • Secara konstan mencari pembenaran dan pernyataan setuju dari orang lain.
  • Terlalu mendramatisir keadaan dengan menunjukkan reaksi emosi yang berlebihan (drama queen).
  • Terlalu sensitif terhadap kritikan dan ketidaksetujuan dari lingkungan.
  • Sikap atau penampilan menggoda yang tidak pada tempatnya.
  • Terlalu perhatian pada penampilan fisik.
  • Kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian.
  • Toleransi yang rendah terhadap frustasi serta pada kegembiraan yang tertunda/kegagalan.
  • Menunjukkan perubahan emosi secara cepat dan terlihat dangkal bagi orang lain.
  • Opininya mudah dipengaruhi oleh orang lain, tapi sulit untuk di-back up secara terperinci.
  • Cenderung mempercayai sebuah hubungan lebih dekat/intim dibandingkan kenyataan yang sesungguhnya (GR-an).
  • Membuat keputusan secara terburu-buru.
  • Mengancam akan melakukan tindakan bodoh untuk mendapatkan perhatian (misalnya bunuh diri).

Literatur yang ada, membedakan deskripsi penderita HPD berdasarkan gender.

Wanita yang menderita HPD biasanya dideskripsikan sebagai sosok yang self-centered, self-indulgent, dan sangat bergantung pada orang lain. Mereka labil secara emosional dan lekat pada orang lain dalam konteks hubungan yang tidak dewasa.

Wanita penderita HPD berlebihan dalam mengidentifikasi hubungan dengan orang lain, proyek-proyeknya tidak realistis, tujuan-tujuannya difantasikan terhadap orang yang terlibat dengannya. Secara emosional mereka dangkal dan memiliki kesulitan dalam memahami orang lain dan dirinya sendiri sedalam apapun.

Wanita penderita HPD biasanya menunjukkan kemarahan yang hebat dan tidak pada tempatnya. Juga biasanya mereka cenderung terlibat dalam hubungan asmara yang menyakitkan dengan pasangannya yang akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu.

Pria yang menderita HPD biasanya menunjukkan masalah krisis identitas, dan kekurangan kontrol perasaan. Mereka memiliki kecenderungan anti-sosial, dan condong untuk mengeksploitasi gejala-gejala fisik. Pria-pria ini secara emosi tidak dewasa, dramatis dan dangkal.

Walaupun secara umum orang-orang yang menderita HPD memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik, tapi mereka cenderung untuk menggunakan kemampuan ini untuk memanipulasi orang lain dan menjadi pusat perhatian.

Lebih jauh lagi, HPD mungkin akan mempengaruhi hubungan sosial dan asmara penderitanya atau kemampuannya untuk mengatasi kekalahan atau kesalahan. Para penderita HPD sering gagal dalam melihat situasi personal mereka secara realistis, dan sebagai gantinya mereka cenderung mendramatisir dan melebih-lebihkan kesulitan yang dialaminya. Tanggungjawab akan kesalahan atau kekecewaan biasanya mereka timpakan pada orang lain.

Mereka mungkin akan sering gonta-ganti pekerjaan karena mereka adalah sosok yang pembosan dan memiliki kesulitan dalam berurusan dengan keadaan frustasi.

Karena mereka cenderung ketagihan akan kesenangan yang baru dan kegembiraan, maka mereka sering menempatkan diri mereka sendiri pada situasi yang sangat beresiko. Semua faktor-faktor tersebut dapat memicu pada resiko yang lebih besar akan peningkatan depresi.

Kemungkinan penyebab:

Secara genetis, kemungkinan bawah ciri-ciri karakter mayornya merupakan sifat yang diturunkan. Sedangkan ciri-ciri karakter lainnya disebabkan oleh kombinasi fenotip dari genetika dan lingkungan, termasuk pengalaman di masa kecil.

Terapi:

Karena kurangnya riset yang mendukung HPD dan perawatan jangka panjang dengan psikoterapi, maka temuan-temuan empiris untuk perawatan kelainan ini masih didasarkan pada metoda kasus yang dilaporkan, dan tidak ada percobaan klinis. Terapi berkelompok tidak direkomendasikan untuk HPD karena biasanya akan mengekalkan sikap-sikap histrionik, karena penderita mempunyai audiens untuk dipermainkan. Terapi yang biasanya dilakukan adalah: terapi keluarga, dengan obat-obatan dan terapi alternatif.

==============

Berkaca dari paparan di atas, jelas bahwa histrionik bukan sekedar bentuk kepribadian yang lain, tapi merupakan salah satu bentuk gangguan kepribadian. Penderitanya gak cuma sekedar mencari perhatian dengan pura-pura sakit hanya untuk menghindari sanksi hukum (seperti yang aku tulis di postingan sebelumnya) saja, tapi lebih dari sekedar itu.

Btw, tulisan di atas diterjemahan secara bebas, disadur, dan disusun ulang dari beberapa link berikut:

http://en.wikipedia.org/wiki/Histrionic_personality_disorder

http://www.mentalhealth.com/dis/p20-pe06.html

Yang mau baca lengkapnya, sok mangga di-klik. Sorry dan silahkan dikoreksi kalau ada terjemahan yang kurang tepat

picture source: gettyimages.com

Entry Filed under: Campur-campur, Journal BaRT, Life, Love and Relationship. Tag: , , .

1 Comment Add your own

  • 1. Juitamayasari  |  November 10, 2008 at 10:35 am

    Thanx infonya.

    Temen kantor juga ada yang kayak gituh, maksudnya kepribadiannya sama persis ma ciri2 di atas. Parahnya, dia ga sadar kalo punya kelainan kepribadian. Padahal temen2 kantor udah muak banged, pada menghindar kalo ada dia. Kasian siy sebenernya…cuma nyebelin banged dech.

    BaRT Menulis:
    Yaa didoakan saja mbak, mudah-mudahan nanti diberi hidayah hehehe …
    Susah juga soalnya kalau diberitahu juga belum tentu mau memahaminya :-)

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Lahir di Yogyakarta, 24 Agustus 19**, sebagai Bartian Rachmat. Nickname saya di rumah Yan, tapi di sekolah -dulu-, di kampus, di kantor atau di kalangan teman2 saat ini, saya biasa dan lebih suka dipanggil BaRT. So just call me BaRT! :-) Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket Mau kenal BaRT lebih jauh? Klik disini

Halaman

a

Tulisan Terbaru BaRT

Tulisan BaRT Teratas

Arsip Tulisan BaRT

Blogroll

Komentar untuk BaRT

mboky di Halloween di Indonesia?? …
Juitamayasari di [Histrionik Part 2] Ternyata s…
izzah di [BaRT's Review] The Kite …
Haryo di Idiophatic Thrombocytopenic Pu…
miszz di Idiophatic Thrombocytopenic Pu…

Stats Blog nya BaRT ...

Kalender

Juni 2008
M S S R K J S
« Mei    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Peta Pengunjung