Beranda > Journal BaRT, Life, Love and Relationship > Para Peninggal Jejak ….

Para Peninggal Jejak ….

Jadi kepikiran untuk nulis postingan ini, setelah membaca beberapa postingan lain di MP yang membahas soal persahabatan. Terlebih lagi setelah membaca postingan mas IAN yang mempertanyakan definisi teman baik, dan postingan om Frendhie tentang gelas kristal yang berdebu.

Kalau aku ditanya definisi sahabat yang baik itu yang bagaimana, terus terang aku akan butuh waktu lama untuk menjawabnya. Rasanya terlalu banyak poin yang harus diisi untuk menjawab pertanyaan itu. Dan mungkin kalau dibaca berulang kali, definisinya akan menjadi relatif. Tapi kalau aku disuruh menunjuk, siapa-siapa saja yang merupakan sahabat-sahabat baikku, aku akan dengan mudah melakukannya. Dan masing-masing dari mereka mempunyai poin-poin yang spesifik sehingga aku memasukkannya ke dalam daftar.

Aku menyadari bahwa sahabat-sahabat baikku tidak selamanya selalu berada atau bisa berada di sampingku pada saat aku membutuhkan. Karena biar bagaimanapun mereka mempunyai hidup dan urusan masing-masing. Tapi aku sadar, ketika mereka dapat meluangkan waktu bersamaku, either itu dalam kondisi suka maupun duka, mereka melakukannya dengan hati yang tulus. Ini salah satu definisi sahabat menurutku.

Diantara banyak sahabat yang aku punya, aku ingat bahwa seringkali aku berselisih paham dengan mereka, dan terkadang kami saling menyakiti perasaan dengan lisan dan gerakan, sehingga kami mengambil waktu untuk berjauhan dan saling berdiam diri. Tapi rasanya sungguh sayang untuk saling membuang. Setelah itu biasanya aku belajar, bahwa sebuah hubungan kadang butuh perselisihan untuk mendewasakan dan mendekatkan satu sama lain. Dan satu-satunya alasan kami tidak saling membuang adalah karena kami saling sayang. Itu poin kedua yang aku catat dari persahabatan.

Aku menyadari bahwa aku memiliki kelemahan dan banyak celah kekurangan. Tapi kalau setiap saat aku selalu memaksakan agar sahabat-sahabatku menerima semua kekuranganku apa adanya, rasanya kok terlalu egois yaa. Karenanya seringkali aku membiarkan dan memberi kesempatan sahabat-sahabatku untuk mengkritikku dengan cara mereka masing-masing, karena akupun ingin kelemahan dan kekurangan itu tereduksi. Tidak mudah memang, karena seringkali kritikan melahirkan benci. Seringkali butuh waktu untuk benar-benar bisa menaklukan benci dan memahami kritik. Aku bersyukur, karena sahabat-sahabatku adalah orang-orang yang bersabar ketika kekuranganku menguji kesabaran mereka. Ini poin ketiga yang aku dapatkan dari mereka.

Tidak semua sahabatku betah menemaniku mengelilingi pameran buku hampir seharian hanya untuk membeli satu dua buku, hanya beberapa diantara mereka, tapi mereka semua tetap sahabatku.

Tidak semua sahabatku bisa memahami bahwa aku lebih suka pergi camping atau hiking dibandingkan melantai di tempat dugem, hanya beberapa diantara mereka, tapi mereka semua tetap sahabatku.

Begitupun kadang aku tidak mengerti kalau ada diantara mereka yang lebih suka menghabiskan waktu di rumah dibandingkan jalan-jalan ke tempat-tempat baru, dan syukurnya mereka masih menganggapku sebagai sahabat.

Dari persahabatan aku belajar bahwa bukan hanya persamaan yang mendekatkan kami, dan seringkali perbedaan tidak melahirkan jarak sama sekali.

Aku sadar juga, bahwa semua sahabat-sahabatku adalah manusia biasa yang tidak sempurna. Tapi rasanya, kalau aku hanya selalu memikirkan kekurangan mereka, bisa-bisa aku tidak akan pernah punya sahabat seumur hidup. Dan melalui hidup ini hingga mati dalam kesendirian. Maka aku memilih beberapa diantara manusia biasa itu untuk mengisi hidupku. Dari mereka aku belajar untuk memilih dan memilah.

Kalau dihitung-hitung, rasanya memang tidak banyak sahabat yang aku miliki, yang masih bertahan dalam daftarku hingga saat ini. Diantara mereka, ada yang sudah mengenalku sejak jaman impianku masih kelas cemen dan sempat mengamati perubahanku dari masa pra akil baligh hingga aku puber berkali-kali. Tapi ada juga beberapa yang baru mengenalku tidak lebih dari hitungan tahun, dan masih sering terkejut dengan hal-hal baru yang mereka ketahui tentangku. Buatku mereka sama berharganya. Yang membedakan saat ini hanya intensitas hubunganku dengan mereka satu per satu.

Ada diantara mereka yang hilang entah kemana, tapi aku tidak akan pernah melupakannya. Terkadang aku pun menghilang dari jangkauan mereka, dan tiba-tiba saja mereka menemukanku sembari menyatakan kerinduannya.

Aku mengingat satu kutipan indah, “Begitu banyak orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Tapi hanya mereka yang istimewa yang akan meninggalkan jejak”. Dan diantara si peninggal jejak itu adalah para SAHABAT.

-tulisan ini aku dedikasikan untuk semua orang yang telah tulus, dan dengan sayang dan sabar menjadi sahabatku-

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: