Beranda > Campur-campur, Journal BaRT, Life, Love and Relationship > [Histrionik Part 2] Ternyata sebuah gangguan kepribadian!

[Histrionik Part 2] Ternyata sebuah gangguan kepribadian!

Perhatian: tulisan ini bisa memusingkan buat yang gak terbiasa baca artikel panjang-panjang hehehe … tapi enjoy aja lagi

==============

Gara-gara tulisan sebelumnya tentang Histrionik. Aku akhirnya goggling di internet. Cuma sekedar pengen tahu aja, sebenarnya histrionik ini salah satu bentuk kepribadian atau apa. Dan berikut adalah hasilnya:

Definisi

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM IV-R), Histrionik dianggap sebagai sebuah gangguan kepribadian (Histrionic Personality Disorder = HPD), yang didefinisikan sebagai sebuah pola emosi yang berlebihan dan kebiasaan mencari perhatian, termasuk kebutuhan akan persetujuan/pembenaran dan biasanya dimulai pada awal masa dewasa. Gangguan ini biasanya mulai terdiagnosa ketika sikap-sikap ini menjadi bersifat menetap dan sangat menyusahkan.

Gejala, ciri dan sifat-sifat:

Penderita HPD biasanya menunjukkan setidaknya lima atau lebih dari gejala-gejala berikut:

  • Secara konstan mencari pembenaran dan pernyataan setuju dari orang lain.
  • Terlalu mendramatisir keadaan dengan menunjukkan reaksi emosi yang berlebihan (drama queen).
  • Terlalu sensitif terhadap kritikan dan ketidaksetujuan dari lingkungan.
  • Sikap atau penampilan menggoda yang tidak pada tempatnya.
  • Terlalu perhatian pada penampilan fisik.
  • Kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian.
  • Toleransi yang rendah terhadap frustasi serta pada kegembiraan yang tertunda/kegagalan.
  • Menunjukkan perubahan emosi secara cepat dan terlihat dangkal bagi orang lain.
  • Opininya mudah dipengaruhi oleh orang lain, tapi sulit untuk di-back up secara terperinci.
  • Cenderung mempercayai sebuah hubungan lebih dekat/intim dibandingkan kenyataan yang sesungguhnya (GR-an).
  • Membuat keputusan secara terburu-buru.
  • Mengancam akan melakukan tindakan bodoh untuk mendapatkan perhatian (misalnya bunuh diri).

Literatur yang ada, membedakan deskripsi penderita HPD berdasarkan gender.

Wanita yang menderita HPD biasanya dideskripsikan sebagai sosok yang self-centered, self-indulgent, dan sangat bergantung pada orang lain. Mereka labil secara emosional dan lekat pada orang lain dalam konteks hubungan yang tidak dewasa.

Wanita penderita HPD berlebihan dalam mengidentifikasi hubungan dengan orang lain, proyek-proyeknya tidak realistis, tujuan-tujuannya difantasikan terhadap orang yang terlibat dengannya. Secara emosional mereka dangkal dan memiliki kesulitan dalam memahami orang lain dan dirinya sendiri sedalam apapun.

Wanita penderita HPD biasanya menunjukkan kemarahan yang hebat dan tidak pada tempatnya. Juga biasanya mereka cenderung terlibat dalam hubungan asmara yang menyakitkan dengan pasangannya yang akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu.

Pria yang menderita HPD biasanya menunjukkan masalah krisis identitas, dan kekurangan kontrol perasaan. Mereka memiliki kecenderungan anti-sosial, dan condong untuk mengeksploitasi gejala-gejala fisik. Pria-pria ini secara emosi tidak dewasa, dramatis dan dangkal.

Walaupun secara umum orang-orang yang menderita HPD memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik, tapi mereka cenderung untuk menggunakan kemampuan ini untuk memanipulasi orang lain dan menjadi pusat perhatian.

Lebih jauh lagi, HPD mungkin akan mempengaruhi hubungan sosial dan asmara penderitanya atau kemampuannya untuk mengatasi kekalahan atau kesalahan. Para penderita HPD sering gagal dalam melihat situasi personal mereka secara realistis, dan sebagai gantinya mereka cenderung mendramatisir dan melebih-lebihkan kesulitan yang dialaminya. Tanggungjawab akan kesalahan atau kekecewaan biasanya mereka timpakan pada orang lain.

Mereka mungkin akan sering gonta-ganti pekerjaan karena mereka adalah sosok yang pembosan dan memiliki kesulitan dalam berurusan dengan keadaan frustasi.

Karena mereka cenderung ketagihan akan kesenangan yang baru dan kegembiraan, maka mereka sering menempatkan diri mereka sendiri pada situasi yang sangat beresiko. Semua faktor-faktor tersebut dapat memicu pada resiko yang lebih besar akan peningkatan depresi.

Kemungkinan penyebab:

Secara genetis, kemungkinan bawah ciri-ciri karakter mayornya merupakan sifat yang diturunkan. Sedangkan ciri-ciri karakter lainnya disebabkan oleh kombinasi fenotip dari genetika dan lingkungan, termasuk pengalaman di masa kecil.

Terapi:

Karena kurangnya riset yang mendukung HPD dan perawatan jangka panjang dengan psikoterapi, maka temuan-temuan empiris untuk perawatan kelainan ini masih didasarkan pada metoda kasus yang dilaporkan, dan tidak ada percobaan klinis. Terapi berkelompok tidak direkomendasikan untuk HPD karena biasanya akan mengekalkan sikap-sikap histrionik, karena penderita mempunyai audiens untuk dipermainkan. Terapi yang biasanya dilakukan adalah: terapi keluarga, dengan obat-obatan dan terapi alternatif.

==============

Berkaca dari paparan di atas, jelas bahwa histrionik bukan sekedar bentuk kepribadian yang lain, tapi merupakan salah satu bentuk gangguan kepribadian. Penderitanya gak cuma sekedar mencari perhatian dengan pura-pura sakit hanya untuk menghindari sanksi hukum (seperti yang aku tulis di postingan sebelumnya) saja, tapi lebih dari sekedar itu.

Btw, tulisan di atas diterjemahan secara bebas, disadur, dan disusun ulang dari beberapa link berikut:

http://en.wikipedia.org/wiki/Histrionic_personality_disorder

http://www.mentalhealth.com/dis/p20-pe06.html

Yang mau baca lengkapnya, sok mangga di-klik. Sorry dan silahkan dikoreksi kalau ada terjemahan yang kurang tepat

picture source: gettyimages.com

Iklan
  1. November 10, 2008 pukul 10:35 am

    Thanx infonya.

    Temen kantor juga ada yang kayak gituh, maksudnya kepribadiannya sama persis ma ciri2 di atas. Parahnya, dia ga sadar kalo punya kelainan kepribadian. Padahal temen2 kantor udah muak banged, pada menghindar kalo ada dia. Kasian siy sebenernya…cuma nyebelin banged dech.

    BaRT Menulis:
    Yaa didoakan saja mbak, mudah-mudahan nanti diberi hidayah hehehe …
    Susah juga soalnya kalau diberitahu juga belum tentu mau memahaminya 🙂

  2. NisaEndah
    Desember 21, 2008 pukul 7:26 pm

    Wah gw punya tuh temen yang kaya GitU!!!?
    apa emaNg penderita Histrionik gak Nyadar ya,Klo semua tindakannya itu Mengganggu BGT!!!
    Gw n temen2 gw Yang Lain dah Muak BGT sama kelakuan temen gw yang Histrionik itu? Tapi mau biLang ke diaNYa jg sungkan,Takutnya dia maLah Jadi Marah,N Gak terima..!!

  3. Desember 31, 2008 pukul 12:02 pm

    ya..thankx ya… coz da ksh ilmu… ni tugas pertama saya… doa’in biar ku bs lulus 4th mendatang.
    sifat ni apa bisa disebut juga CaPer… cian jg ya…cakep2 tp kurang bener

  4. dafitawon
    Februari 7, 2009 pukul 7:13 am

    no comment

    salam kenal aja ..
    http://firman.web.id

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: